sakuratoto

Noor Huda : Serangan Bom Gereja Surabaya Tidak Bisa Diatasi!

 KRIMINAL, NEWS
Iklan Ads

Serangan Bom Gereja Surabaya Tidak Bisa Diatasi Karena Kurangnya Bantuan Dari Dalam Seperti Pemimpin Agama, Pendidik, dan Orang Tua

Alam dan Entertainment News, Berita Dunia Terbaru, Berita hari ini, Berita Indonesia Terbaru, Berita Terkini, berita terupdate, Foto, Indoharian, kesehatan, Politik, Terupdate serta Analisis dari INDOHARIAN.com, Ulasan Teknologi, Video, news, kesehatan, teknologi, kriminal, wisata, olahraga, otomotif, aktor, aktris, kulinerAlam dan Entertainment News, Berita Dunia Terbaru, Berita hari ini, Berita Indonesia Terbaru, Berita Terkini, berita terupdate, Foto, Indoharian, kesehatan, Politik, Terupdate serta Analisis dari INDOHARIAN.com, Ulasan Teknologi, Video, news, kesehatan, teknologi, kriminal, wisata, olahraga, otomotif, aktor, aktris, kuliner

IndoHarian – Noor Huda : Serangan Bom Gereja Surabaya Tidak Bisa Diatasi!

 

IndoHarian – Pendiri Yayasan Prasasti Perdamaian Noor Huda Ismail mengatakan pihak berwenang tidak bakal bisa untuk mencegah terjadinya serangan bom gereja Surabaya sebab ada perubahan dari pola perencanaan serangan dan juga pola penyebaran ideologi radikal.

Noor Huda mengungkapkan bahwa serangan-serangan yang terjadi itu dilakukan karena adanya kesamaan ide tanpa ada perintah dari pimpinan.

“Ini leaderless jihad hanya karena kesamaan ide,” ucap Noor Huda, pada hari Minggu (13/5/2018). Dia juga menerangkan, meski tidak ada pemimpin ataupun perintah, perencanaan dari aksi tersebut dilakukan kelompok-kelompok dari aplikasi seperti Telegram dan Whatsapp.

“Dengan media sosial terutama telegram mereka berkoordinasi,” ucap Noor Huda. Aplikasi tersebut, terutama Telegram dan Whatsapp, hingga kini masih belum bisa untuk disadap karena sistem enkripsi yang sangat canggih.

Satu-satunya cara agar bisa mengetahui aktivitas mereka dalam group hanya dengan menjadi anggotanya. Alasan keamanan seperti ini yang menyebabkan negeri China melarang untuk Whatsapp dan Telegram.

Kesulitan untuk menembus aplikasi tersebut menjadi sebab dari masih adanya sejumlah serangan bom di Indonesia, meskipun polisi berulang kali telah berhasil menangkap sejumlah warga yang diduga bakal melakukan serangan yang mematikan tersebut.

Beberapa gereja di Surabaya telah dibom pada hari Minggu (13/5/2018) yang telah menewaskan hingga sembilan orang dan melukai hingga puluhan orang.

Hingga saat ini polisi telah menyebutkan bahwa serangan tersebut terjadi di tiga gereja. Pertama ledakan terjadi di Gereja Santa Maria Tak Bercelah Ngagel pukul 07.30 WIB, lalu selanjutnya ledakan terjadi di GKI Jalan Diponegoro pukul 07.35 WIB, dan juga ledakan terjadi di Gereja Pantekosta Jalan Arjuna pukul 08.00 WIB.

Polisi telah memberikan ungkapan bahwa aksi serangan bom gereja Surabaya merupakan aksi serangan bom bunuh diri.

Beberapa jam sebelumnya, Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror telah menembak mati empat orang yang diduga teroris di Terminal Pasirhayam, Desa Sirnagalih Kecamatan Cilaku, Cianjur, Jawa Barat, Minggu dini hari.

SIMAK JUGA Berita Harian Lainnya
Insiden Mako Brimob Dianggap Settingan, Bom Gereja Surabaya Settingan juga?
Bom Bunuh Diri Gereja, Ini Komentar Idham Azis
Heboh!! Amien Menghina NKRI, Ini Yang Telah Dikatakannya!!!

 

Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Setyo Wasisto mengungkapkan bahwa mereka teroris dari kelompok Jamaah Ansharut Daulah (JAD) yang bangun menjelang Ramadan dan Idul Fitri.

Setyo mengungkapkan bahwa anggota Densus 88 Antiteror sekarang ini masih terus mengejar anggota dari kelompok JAD yang dikhawatirkan bakal menggelar serangan lain. Karena, ungkap Setyo, kelompok tersebut tetap menjadikan polisi sebagai target utama serangan mereka.

Noor Huda juga menyebut bahwa sebagian besar dari para penganut paham radikal ini direkrut melalui media sosial yang sampai pada warga yang memiliki jalan pikir yang terbilang sempit.

“Tahapan mereka menjadi radikal itu instan, mereka terpengaruh oleh propaganda yang telah dibuat ISIS dan disebarkan oleh para pendukungnya. Propaganda tersebut selalu berisi tentang aksi anggota ISIS di seluruh dunia yang dianggap sebagai heroik,” ucapnya.

Para pelaku, ucap Noor Huda, kemudian mereka ingin meniru aksi-aksi yang telah dianggap heroik oleh mereka itu dan kemudian memutuskan untuk melakukan aksi seperti di Surabaya tersebut.

Noor Huda juga mengungkapkan bahwa usaha untuk menghilangkan pemikiran yang radikal masih ada di tangan masyarakat karena deradikalisasi berhasil pada beberapa individu tetapi tidak secara luas di kalangan masyarakat.

“Masih banyak yang menolak ada masalah ini, mereka masih berpikir ini proyek, rekayasa, permainan dan konspirasi,” ucapnya.

Jadi, sambungnya, selama jalan pikir seperti itu masih meluas bakal sangat sulit untuk bisa melakukan deradikalisasi yang pada akhirnya sangat sulit untuk benar-benar menghilangkan ancaman dari serangan bom seperti yang telah terjadi di sejumlah gereja di Surabaya.

Negara, menurut pendapat Noor Huda, tidak bakal bisa untuk mengatasi masalah serangan bom gereja Surabaya ini tanpa adanya bantuan dari masyarakat terutama dari pimpinan agama, pendidik dan juga orang tua.

Sumber : Indoharian | Berita Harian Indonesia Terbaru dan Terupdate

totokita3

Related Posts

Leave a Reply