banner 468x60

Ribuan Burung Mati di Bali, Diduga Karena Ini

 NEWS, WISATA
banner 468x60

Tidak Pernah Sebelumnya Ribuan Burung Mati di Bali, Diduga Karena Asap Gunung

Berita Harian Indonesia Terbaru dan Terupdate, Politik, Berita Dunia Terbaru, Foto, Video, Ulasan Teknologi, Kesehatan, Alam dan Entertainment News

Tidak Pernah Sebelumnya Ribuan Burung Mati di Bali, Diduga Karena Asap Gunung

 

IndoHarian – Ratusan hingga ribuan burung mati di sekitar Kantor Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Karangasem, Bali, pada hari Senin (25/9/2017).

Hal tersebut diketahui sekitar jam 05.00 Wita. Bangkai burung jenis pipit ini bertebaran di bawah pohon berdiameter satu meter.

Yang pertama kali melihat peristiwa ini adalah Amin Basri (seorang pria berusia 54 tahun), tukang kebun di Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Karangasem. Apa penyebab kematian burung -burung tersebut, yang bersangkutan mengaku tidak tahu. Diprediksi, burung -burung mati karena hujan yang begitu lebat, atau mungkin karena kena asap gunung.

“Enggak tahu penyebabnya ribuan burung mati. Mungkin karena hujan lebat atau kena asap dari gunung. Tumben kejadian seperti ini. Sebelumnya tidak pernah. Pohon ini jadi tempat beristirahat para burung,” imbuh Amin Basri saat ditemui Indoharian Bali di lokasi.

Sementara, Kepala PVMBG Kementerian ESDM Kasbani menuturkan, status Gunung Agung masih level IV alias awas. Namun, intensitas kegempaan kian bertambah atau meningkat.

 

SIMAK JUGA Berita Harian Lainnya
Menteri KPPPA Angkat Suara Dalam Kasus Lelang Perawan
Gunung Agung Erupsi, Begini Yang Di Lakukan Gubernur NTB
Hilang Satu Bulan, Ditemukan Kembali Tubuh Hangus Terbakar

 

“Intensitas kegempaannya kian meningkat dan berstatus awas, dan peningkatan gempa vulkanik dangkalnya secara konsisten naik. Kami akan perhatikan tahapan selanjutnya,” terang, ditemui di PVMBG Pos Pengamatan Gunung Agung, Desa Rendang, Karangasem, Bali, pada hari Senin (25/9/2017).

Karena masih berstatus level IV atau awas, ucap  Kasbani, status bahaya masih di radius sembilan kilometer dari puncak Gunung Agung. Pun sektoralnya masih di radius 12 km ke arah timur laut, selatan, barat daya, dan tenggara.

“Itu radius untuk zona merahnya atau area berbahaya,” ucapnya.

Dengan adanya peningkatan aktivitas kegempaan, apakah kemungkinan nantinya akan ada perluasan zona merahnya? Kasbani menyebut, terlebih dahulu akan melihat perkembangannya.

“Kami lihat perkembangannya. Usai  terjadi erupsi, ada potensi untuk memperluas zona merah. Dari sembilan KM menjadi 12 KM, dan yang radius 12 KM diperluas ke radius 15 KM,” jelasnya.

Sumber : Indoharian | Berita Harian Indonesia Terbaru dan Terupdate

Related Search

banner 468x60

Related Posts

Leave a Reply