banner 468x60

Trump Tepati Janji Resmikan Yerusalem Ibu Kota Israel, Menuai Banyak Kritik

 NEWS, POLITIK
banner 468x60

Presiden AS Menimbulkan Badai Kritik Usai Resmikan Yerusalem Ibu Kota Israel

Alam dan Entertainment News ,Berita Dunia Terbaru ,Berita hari ini ,Berita Indonesia Terbaru ,Berita Terkini ,berita terupdate Foto ,Indoharian kesehatan ,Politik ,Terupdate serta Analisis dari INDOHARIAN.com ,Ulasan Teknologi ,Video

Presiden AS Menimbulkan Badai Kritik Usai Resmikan Yerusalem Ibu Kota Israel

 

IndoHarian – Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada hari Rabu waktu Washington secara resmi telah mengakui Yerusalem ibu kota Israel. Keputusannya tersebut “bertentangan” dengan kebijakan luar negeri AS yang telah berjalan selama tujuh tahun.

Pengumuman Trump sekaligus menandai langkah awal pemindahan Kedutaan Besar Amerika Serikat dari Tel Aviv ke Yerusalem.

“Hari ini, akhirnya kita mengakui hal yang jelas: bahwa Yerusalem ialah ibu kota Israel. Ini tak lebih dari sekadar pengakuan akan realitas. Ini juga hal yang tepat untuk dilakukan. Ini hal yang harus dilakukan,” ucap Trump saat berpidato di Diplomatic Reception Room, Gedung Putih, seperti dikutip dari media setempat, pada hari Kamis (7/12/2017).

Selama tujuh dekade, Amerika Serikat bersama dengan hampir seluruh negara lainnya di dunia, menolak mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel sejak negara tersebut mendeklarasikan pendiriannya pada tahun 1948. Sementara, menurut Trump, kebijakan penolakan tersebut membawa seluruh pihak “tak mendekati kesepakatan damai antara Israel-Palestina”.

“Akan menjadi kebodohan untuk mengasumsikan bahwa mengulang formula yang sama persis saat ini akan menghasilkan kesimpulan yang berbeda atau lebih baik,” tutur Presiden ke-45 AS tersebut.

Pengakuan terhadap Yerusalem, menurut orang nomor satu di AS, adalah “sebuah langkah terlambat untuk memajukan proses perdamaian”.

SIMAK JUGA Berita Harian Lainnya
Berkas Penyidikan Tersangka Telah Rampung, SN Deg-degan
Isyarat Jenderal Gatot Sudah Terlihat Jelas di Panggung Politik
Terkait Dengan Reuni 212 Begini Kata Haedar Nashir

Trump sebelumnya sudah bersumpah akan menjadi perantara “kesepakatan akhir” antara Israel dan Palestina. Terkait hal ini, dia menegaskan bahwa dirinya tetap berkomitmen untuk melakukan hal tersebut mengingat “itu begitu penting bagi Israel dan Palestina”.

Ayah lima anak tersebut mengatakan keputusannya untuk mengakui Yerusalem ibu kota Israel tak seharusnya ditafsirkan bahwa Amerika Serikat mengambil posisi tertentu atau bagaimana kota itu akan dibagi.

“Dalam pengumuman ini, saya mau mempertegas satu hal: keputusan ini tak dimaksudkan, dengan cara apa pun, untuk menunjukkan penarikan diri dari komitmen kuat kami untuk memfasilitasi kesepakatan perdamaian abadi. Kami menginginkan sebuah kesepakatan yg menjadi kesepakatan baik bagi Israel maupun dengan Palestina.”

“Kami tak mengambil posisi untuk status akhir pada isu-isu tertentu, termasuk perbatasan spesifik kedaulatan Israel di Yerusalem atau resolusi perbatasan yg diperdebatkan. Itu menjadi urusan pihak-pihak yang terlibat,” tutur Trump.

Sebagai gantinya, Trump menekankan dimensi politik dalam negeri atas keputusannya tersebut. Dia menuturkan bahwa dalam kampanye Pilpres 2016, dia sudah berjanji untuk memindahkan Kedubes AS ke Yerusalem yang berarti mengakui kota tersebut sebagai ibu kota Israel.

“Presiden-Presiden sebelumnya sudah menjadikan itu sebagai janji utama dalam kampanye mereka, tapi mereka gagal mewujudkannya. Hari ini, saya melakukannya,” ucap suami dari Melania tersebut.

Meski tak disinggung dalam pidatonya, Trump dilaporkan akan tetap menandatangani perintah suspensi per enam bulan untuk menunda kepindahan Kedubes Amerika Serikat ke Yerusalem. Pejabat Gedung Putih menerangkan bahwa hal tersebut harus dilakukan mengingat perlu waktu beberapa tahun untuk “memboyong” misi diplomatik AS ke Yerusalem.

Trump menyadari pertentangan yang timbul atas keputusannya. “Jadi hari ini, kami serukan supaya ketenangan, sikap menahan diri, suara-suara toleransi harus menang atas penebar kebencian”.

Pengakuan Trump atas Yerusalem ibu kota Israel dinilai mengisolasi Amerika Serikat dalam salah satu isu diplomatik paling sensitif di dunia. Sebelumnya, wacana Trump tersebut sudah menimbulkan badai kritik dari para pemimpin negara-negara Arab dan Eropa.

Sumber : Indoharian | Berita Harian Indonesia Terbaru dan Terupdate

Related Search

banner 468x60

Related Posts

Leave a Reply