sakuratoto

BAHAYA!! Penyakit Rubella Dan Campak Mengakibatkan 110.000 Meninggal

 KESEHATAN, NEWS
Iklan Ads

Penyakit Rubella Dan Campak Mengakibatkan 110.000 Meninggal

Alam dan Entertainment News, Berita Dunia Terbaru, Berita hari ini, Berita Indonesia Terbaru, Berita Terkini, berita terupdate, Foto, Indoharian, kesehatan, Politik, Terupdate serta Analisis dari INDOHARIAN.com, Ulasan Teknologi, Video, news, kesehatan, teknologi, kriminal, wisata, olahraga, otomotif, aktor, aktris, kuliner Alam dan Entertainment News, Berita Dunia Terbaru, Berita hari ini, Berita Indonesia Terbaru, Berita Terkini, berita terupdate, Foto, Indoharian, kesehatan, Politik, Terupdate serta Analisis dari INDOHARIAN.com, Ulasan Teknologi, Video, news, kesehatan, teknologi, kriminal, wisata, olahraga, otomotif, aktor, aktris, kulinerAlam dan Entertainment News, Berita Dunia Terbaru, Berita hari ini, Berita Indonesia Terbaru, Berita Terkini, berita terupdate, Foto, Indoharian, kesehatan, Politik, Terupdate serta Analisis dari INDOHARIAN.com, Ulasan Teknologi, Video, news, kesehatan, teknologi, kriminal, wisata, olahraga, otomotif, aktor, aktris, kuliner Alam dan Entertainment News, Berita Dunia Terbaru, Berita hari ini, Berita Indonesia Terbaru, Berita Terkini, berita terupdate, Foto, Indoharian, kesehatan, Politik, Terupdate serta Analisis dari INDOHARIAN.com, Ulasan Teknologi, Video, news, kesehatan, teknologi, kriminal, wisata, olahraga, otomotif, aktor, aktris, kuliner

Indoharian – BAHAYA!! Penyakit Rubella Dan Campak Mengakibatkan 110.000 Meninggal

 

Indoharian – Target WHO ( World Health Organization ) hingga 2020 bisa eradikasi (pemusnahan) Penyakit Rubella Dan Campak, dipastikan tidak akan terwujudkan. Tahun 2017 WHO ( World Health Organization ) mencatat tingginya kasus infeksi campak di seluruh dunia hingga 30% berbanding dengan tahun lalu. Jumlah kasus penyakit rubella dan campak di seluruh dunia yang di laporkan WHO tahun 2017 naik drastis mencapai 190.000 kasus. Sedangkan Tahun 2016 tercatat hanya 130.000, sebuah kenaikan yang cukup signifikan sekitar 30 persen, yang membuat badan kesehatan dunia itu berhati – hati.

Lebih menyedihkannya lagi, sekitar 110.000 orang, rata-rata adalah anak-anak dan balita, meninggal karena terjangkit penyakit rubella dan campak sepanjang 2017. Jumlah berita yang di kabarkan, di perkirakan hanya sebagian kecil dari kasus infeksi yang sebenarnya. Grafiks perhitungan WHO menunjukan, sedikitnya 6,7 juta orang terjangkit penyakit rubella dan campak pada tahun 2017 lalu.

Hingga akhir November 2018, berita tejangkitnya penyakit rubella dan campak meningkat sedikit sekitar 10% dari seluruh kasus tahun lalu. “Tanpa upaya penambahan vaksinasi dan identifikasi anak belum imunisasi, kita akan kehilangan progres perlindungan anak tanpa vaksin dan imunisasi komunitas yang telah kita bangun dekade sebelumnya. Tetapi virus ini masih dapat kita tanggulin,” ujar Soumya Swaminathan, wakil direkur jenderal program WHO.

Dampak Penyakit Campak Dan Rubella.

Penyakit rubella dan campak adalah penyakit yang gampang tertular dengan banyak komplikasi” ujar ahli WHO, Ann Lindstrand. Akibat penyakit campak akan timbul bercak merah pada kulit, demam tinggi, dehidrasi dan mudah lelah. Keadaan ini lah yang sangat di khawatirkan untuk anak – anak.

Komplikasi lebih lanjut dari Penyakit Rubella Dan Campak ini akan menyebabkan peradangan telinga bagian luar (otitis), kebutaan, radang otak (ensefalitis), radang paru (pneumonia), kebutaan, sampai kematian. Reaksi dari rubella sendiri tidaklah gampang untuk di deteksi pada anak, namun sangatlah berbahaya untuk perempuan yang sedang mengandung terutama di awal kandugan. Efek rubella sendiri untuk ibu yang sedang hamil adalah keguguran atau kecacatan permanen terhadap bayi ( Congenital Rubella Syndrome ) berupa ketulian, katarak hingga kebutaan, kelainan jantung dan pengecilan otak.

Disinformasi Dan Bahaya Yang Diremehkan

SIMAK JUGA Berita Harian Lainnya
Fadli Sindir Prabowo Kampanye Saat Reuni 212: Mereka Goblok
PPP Tanggapi Rizieq, Romi: Saya Pendukung Berat Penista Agama
Jokowi Waspada, Reuni 212 Untungkan Prabowo Karena Ini

 

Banyak orang tua yang meremehkan pentingnya vaksin dan imunisasi, seperti halnya di Jerman. Hal ini di sebabkan oleh penyebaran info yang salah tentang keefektifitas’an dan keamanan vaksin ataupun imunisasi terutama di media sosial yang mengatakan bahwa vaksin mengakibatkan autisme pada anak.

Selain itu perdebattan dan migrasi besar – besaran mengakibatkan program vaksin dan imunisasi campak terhenti. Hal ini dapat di lihat dengan rendahnya imunisasi dan vaksinasi di Afrika yang menyebabkan penyebaran penyakit secara global. Meskipun demikian WHO mengatakan, lebih dari 850.000 kasus campak telah terlewati sejak tahun 2000.

Rubella dan Campak Di Indonesia

Indonesia termasuk kedalam 10 negara dengan kasus campak tertinggi dunia dengan total 1959 kasus berdasarkan data WHO selama September 2017 hingga Februari 2018. Kementrian Kesehatan RI mencatan 57.056 berita (selama tahun 2014 – juli 2018).

Juga kandungan enzim babi dalam vaksin MR ( Measle Rubella ) sempat memicu perdebatan hingga penundaan vaksin MR untuk anak – anak di beberapa provinsi Indonesia. Dampaknya ratusan hingga ribuan anak lahir dengan keadaan cacat bawaan akibat ibunya terjangkit penyakit virus rubella tersebut.

Sebagai antisipasi 21 Agustus lalu, MUI mengeluarkan fatwa no 33 tahun 2018 yang memperbolehkan  ( mubah ) pemakaian vaksin MR yang berasal dari Serum Institute India (SII) untuk program imunisasi dan vaksinasi karena adanya faktor keterpaksaan ( darurat syariyyah ). MUI juga mempertimbangkan resiko Penyakit Rubella Dan Campak yang akan muncul tanpa pemberian vaksin serta belum di temukannya vaksin yang halal.

Sumber : Indoharian | Berita Harian Indonesia Terbaru dan Terupdate

totokita3

Related Posts

Leave a Reply