Refly Menolak Jadi Timses, Ternyata Ini Penyebabnya!

Refly Menolak Jadi Timses Jokowi ataupun Prabowo

Alam dan Entertainment News, Berita Dunia Terbaru, Berita hari ini, Berita Indonesia Terbaru, Berita Terkini, berita terupdate, Foto, Indoharian, kesehatan, Politik, Terupdate serta Analisis dari INDOHARIAN.com, Ulasan Teknologi, Video, news, kesehatan, teknologi, kriminal, wisata, olahraga, otomotif, aktor, aktris, kulinerAlam dan Entertainment News, Berita Dunia Terbaru, Berita hari ini, Berita Indonesia Terbaru, Berita Terkini, berita terupdate, Foto, Indoharian, kesehatan, Politik, Terupdate serta Analisis dari INDOHARIAN.com, Ulasan Teknologi, Video, news, kesehatan, teknologi, kriminal, wisata, olahraga, otomotif, aktor, aktris, kuliner

IndoharianRefly Menolak Jadi Timses, Ternyata Ini Penyebabnya!

 

Indoharian – Sesudah diberhentikan dari posisi komisaris Utama PT Jasa Marga (Persero) Tbk, Pakar hukum tata negara Refly Menolak jadi Timses atau belum mau untuk menjadi bagian dari tim sukses (Timses) kubu manapun di dalam Pemilu 2019. Baginya, sikap kritis sesuai dengan keilmuan lebih diutamakan.

“Saya tidak pernah untuk tertarik menjadi timses, sampai sekarang ini, tidak pernah ingin untuk menjadi timses siapapun Refly Menolak jadi Timses Jokowi maupun Prabowo,” katanya. Kamis (6/9/2018).

Bagi dirinya, menjadi akademisi yang netral dalam berpendapat lebih sangat diutamakan supaya menghadirkan pandangan yang tidak memihak dan kritis.

“Saya pikir memang harus ada akademisi yang tidak masuk dua kotak (kubu) tersebut,” ujarnya.

Dirinya tidak memungkiri pada tahun 2014 dirinya sudah memberikan keuntungan tertentu bagi seorang kubu Jokowi dan Jussuf Kalla. Pertama, di dalam hal pandangan pesimistis atas gugatan kubu Prabowo Subianto-Hatta Rajasa dalam perselisihan hasil dari Pemilihan Umum (PHPU) di Mahkamah Konstitusi.

Disaat itu, dirinya menyebut bahwa gugatan tersebut 99 persen ditolak Mahkamah Konstitusi (MK) karena klaim kecurangan KPU dan suara tambahan tidak bisa dibuktikan oleh kubu Prabowo di dalam persidangan.

Menurut dirinya, hal itu bagian dari pandangan objektif sesuai dengan keilmuannya. Bagi dirinya keuntungan yang didapat dari kubu tertentu dari pandangannya adalah dinamika.

SIMAK JUGA Berita Harian Lainnya
Surya Paloh Sarankan Ma’ruf, Untuk Apa? Ini Penjelasanya!
Golkar Solid dukung Jokowi? Ini Penjelasan Agung!
WTF!! OSO nyaleg DPD, Ini Tanggapan Hanura

 

“Saya juga tidak pernah untuk memusuhi siapapun, tidak memusuhi pemerintah, tidak ada persoalan juga dengan oposisi. Kalau berdiskusi, saya sesuaikan dengan ilmu saya, bisa menyenangkan atau tidak,” kata Refly.

Pascapilpres 2014, Refly ditarik ke Istana sebagai Staf Khusus Menteri Sekretaris Negara Pratikto. Namun, itu hanya berlangsung empat bulan, yaitu dari 1 Desember 2014 hingga 31 maret 2015.

Dirinya juga sudah menerima tawaran jadi komisaris Utama Jasa Marga. Sebabnya, posisi tersebut dinilainya lebih netral dari sisi politik dan bisa memelihara sikap kritisnya, termasuk juga kepada Pemerintah.

“Walau memang (posisi komisaris) bisa saja karena kompensasi dari pemerintah, sikap saya ditempatkan di manapun, sepanjang saya enjoy, saya akan bekerja dan memberi warna,” ujar dia.

Refly kemudian dicopot dari jabatannya sebagai Komut itu lewat RUPSLB Jasa Marga, di Jakarta, Rabu (5/9). Posisi komisaris utama diisi oleh Sapto Amal Damandari, yang merupakan mantan Wakil Ketua BPK.

Refly Menolak jadi Timses “Saya pikir memang harus ada akademisi yang tidak masuk dua kotak (kubu) tersebut,” ujarnya.

Sumber : Indoharian | Berita Harian Indonesia Terbaru dan Terupdate

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *